Bekasi – Kamar Dagang dan Industri Kota Bekasi, Jawa Barat, memfasilitasi pelaku usaha industri kreatif dan produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah di daerah ini untuk pemasaran hingga ke luar negeri.
“Banyak produk yang dihasilkan pelaku UMKM Kota Bekasi yang berpotensi membuka peluang pasar luar neger, seperti produk garmen, batik, aksesoris sampai tas,” kata Ketua Kadin Kota Bekasi, Choiril Astari, di Bekasi, Kamis.
Menurut dia, peluang pemasaran produk Kota Bekasi hingga ke luar negeri tengah terbuka lebar, sebab produk yang dihasilkan oleh UMKM di wilayah itu diklaim sangat bagus.
Pernyataan tersebut disampaikan Choiril dalam acara ‘Coffee Morning’ di Graha Wulan Sari, Kota Bekasi, Kamis pagi.
Dalam acara itu, praktisi UMKM dari perwakilan pengusaha, pemerintah daerah, Kadin di Kota Bekasi dikumpulkan untuk diberikan pemahaman seputar proses ekspor barang ke luar negeri.
Menurut pria yang karib disapa Oing, nilai ekspor barang di Kota Bekasi setiap tahunnya mengalami fluktuasi, namun mengalami tren penurunan sejak 2014.
Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bekasi, nilai ekspor pada 2012 mencapai sebesar USD983.515.065,83, 2013 USD570.698.208.03.
Namun pada periode 2014 nilai ekspor menurun USD526.331.378,12, 2015 USD427.797.043,12, dan 2016 sebesar USD357.984.953.
oing mengatakan, pelatihan kepada pelaku UMKM Kota Bekasi itu diharapkan bisa mendongkrak nilai ekspor barang dari kawasan setempat mulai 2018.
“Pelatihan ini menjadi kesempatan yang besar untuk pelaku UMKM memasuki pasar luar negeri dan mendongkrak nilai ekspor,” katanya.
Peserta kegiatan tersebut dibekali pembekalan materi seputar keterampilan serta pemahaman yang mendalam terkait prosedur ekspor secara terpadu.
“Diklat ini untuk memfasilitasi pelaku usaha menjadi eskportir handal bagi produknya,” katanya.
Oing menambahkan, sampai dengan saat ini belum banyak produk UMKM yang bisa diekspor ke luar dikarenakan kurangnya pengetahuan mereka mengenai pemasaran global.
“Kadin sebagai organiasi yang menaungi pelaku usaha hanya sebatas memfasilitasi diklat dan akses permodalan ke perbankan, tidak sampai membantu membiayai untuk ekspor produk, sebab biayanya memang tidak sedikit,” katanya. (Ant)




